Ansor Gelar Dzikir Untuk Umat dan Bangsa
Palu, ANTARA – Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah akan menggelar dzikir akbar untuk umat dan bangsa dalam rangka hari lahir ke-77 Ansor pada Jumat (6/5) setelah shalat Ashar.
“Dzikir akbar ini akan dipusatkan di masjid raya Donggala,” kata Ketua Gerakan Pemuda Ansor Donggala, Muhdar Ibrahim di Palu, Kamis malam.
Muhdar mengatakan, dzikir akbar tersebut sebagai bagian dari peran pemuda khususnya Gerakan Pemuda Ansor dalam mengatasi berbagai masalah yang dihadapi bangsa saat ini.
Menurutnya, sebagai bangsa yang berketuhanan sudah sepantasnya masyarakat bermohon kepada Tuhan agar bangsa ini keluar dari berbagai krisis yang dihadapi.
“Belakangan ini begitu banyak masalah, dengan doa kita berharap masalah itu bisa teratasi,” katanya.
Dzikir akbar tersebut, kata Muhdar, akan dihadiri dari berbagai lapisan masyarakat di Banawa, ibu kota Kabupaten Donggala dan pengurus Gerakan Pemuda Ansor dari sejumlah kecamatan di daerah itu.
Dzikir tersebut ,kata dia, juga akan diisi dengan rangkaian ceramah agama oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, KH Zainal Abidin.
Terkait dengan hari lahir Gerakan Pemuda Ansor tersebut, sebelumnya sudah dilaksanakan berbagai kegiatan seperti sunatan massal gratis dan bakti sosial di rumah-rumah ibadah oleh Gerakan Pemuda Ansor Sulteng. Masyarakat menyambut antusias sunatan massal tersebut. Warga mengaku terbantu karena tidak mengeluarkan biaya.
Ketua Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sulteng, Sahran Raden mengatakan, kegiatan Ansor tersebut merupakan wujud nyata dari peran pemuda di daerah ini.
Dia mengatakan, semangat kelahiran Ansor yang diwarnai dengan semangat perjuangan, nasionalisme, pembebasan, dan epos kepahlawanan patut disemangati di era saat ini.(antara)
Pemuda NU Tolak Pembentukan GMNU
Sleman – Belasan orang yang tergabung dalam Aliansi Penyelamat Pemuda Nahdlatul Ulama (NU) melakukan unjuk rasa di perempatan UIN Yogyakarta menolak pembentukan Gerakan Mahasiswa NU (GMNU) hasil rapat pleno PBNU di Bantul beberapa hari lalu.
“Kami menilai hasil kesepakatan itu tidak objektif dan jauh dari esensi kaderisasi. Bahkan tidak memandang bahwa PBNU telah memiliki organisasi kemahasiswaan, PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ) meski hubunganya sebatas kultural,” kata Koordinator Aksi, Agus Bahau’din Anwar, Janus (31/3).
Karena itu, menurut Agus pembentukan ini menyakitkan bagi mahasiswa terutama anggota PMII padahal menjadi wadah bagi pemuda untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan nilai-nilai NU masih tertanam dalam PMII. Selain itu pembentukan GMNU akibat kegagalan kaderisasi padahal memiliki organisasi kepemudaan lain seperi IPNU dan GP Ansor.
“Sebalinya, apabila GMNU ada, maka akan menuai konflik dan kehancuran di tubuh pemua NU sendiri.Kami menolak intervensi asing di internal PBNU dan PMII,”tandsnya. (sumber: KRjogya.com)
Alquran Tertua di Asia
Ternate – Alquran tertua di Asia yang didatangkan dari Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) milik Kesultanan Ternate akan ditampilkan pada festival Legu Gam pada 1 hingga 16 April dan bisa dilihat langsung oleh masyarakat.
Ketua Panitia Legu Gam, Arifin Djafar di Ternate, Kamis, mengatakan, Al-Quran kuno yang terbuat dari kulit kayu, berisikan ayat-ayat Al-Quran lengkap 30 juz (114 surat) dengan pembungkus berupa kotak dari kayu, diarak dari bandara Sultan Babullah ke Kedaton Kesultanan Ternate.
“Kitab suci ini dipinjam dari Pemda Kabupaten Alor untuk dipamerkan pada acara Legu Gam MKR 2011. Al-Quran tua ini akan dibaca saat tertentu pada acara itu,” kata Arifin yang juga Wakil Walikota Ternate. Al-Quran kuno ini dibawa ke Alor Besar pada 1519 M oleh Iang Gogo yang merantau bersama keempat saudaranya dengan misi penyebaran Agama Islam hingga ke Alor.
Saat itu, Al-Quran ini dibawa pada masa Kesultanan Babullah lima bersaudara berlayar dari Ternate dengan menggunakan perahu layar yang menurut riwayat bernama Tuma Ninah, yang berarti “Berhenti/Singgah Sebentar”.
Al-Quran ini tersimpan di rumah pondok sekitar tahun 1982, saat itu, kata Arifin terjadi kebakaran besar yang melanda rumah pondok tempat menyimpan kitab tua ini yang menghanguskan seluruh bandan dan isi rumah termasuk semua benda-benda peninggalan Ia Gogo yang dibawa dari Ternate.
“Tetapi anehnya, Al-Quran tertua ini tidak terbakar dan hingga saat ini masih tetap terawat dan utuh,” kata Arifin.
Sebelumnya, Al-Quran di bawa oleh rombangan dengan menggunakan pesawat Express. Al-Quran tersebut langsung diarak dari Bandara Babullah ke Kedaton Kesultanan Ternate yang berjarak sekitar 7 Km. Al-Quran tertua tersebut dibawa oleh pihak Kesultanan Ternate, dan didampingi oleh seluruh perangkat kesultanan (bobato).(sumber:republika)
Ansor Sponsori Konsorsium OKP Lintas Agama
Palu – Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) lintas agama di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) sepakat membentuk konsorsium, guna menguatkan harmonisasi kerukunan umat beragama berbasis pemuda di daerah mereka.
Ketua Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sulteng, Sahran Raden, mengatakan kesepakatan tersebut diputuskan melalui grup diskusi terfokus yang dilaksanakan Ansor Sulteng di Palu, Rabu malam.
“Konsorsium yang disepakati itu tidak bersifat struktural, sehingga tidak perlu ada pengurusnya. Misalnya, tiga bulan ke depan tanggung jawab yang menggerakkan konsorsium ini adalah Ansor dan tiga bulan mendatang oleh GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), begitu seterusnya,” kata Sahran, di Palu, Kamis.
Dia mengatakan, konsorsium tersebut akan melakukan konsolidasi organisasi lintas agama untuk selanjutnya melaksanakan gerakan bersama dalam rangka penguatan hubungan antarumat beragama.
Grup diskusi yang berlangsung hingga tengah malam itu mengangkat tema pluralisme dan menakar hubungan antarumat beragama berbasis pemuda.
Kegiatan ini dihadiri sekitar 20 OKP di Provinsi Sulteng yang didominasi oleh OKP lintas agama.
Dalam diskusi tersebut terungkap bahwa salah satu fakta yang mencederai kerukunan umat beragama di lingkungan masyarakat umat beragama adalah masalah pembangunan rumah ibadah.
Fasilitator diskusi, Muhtadin Daeng Mustafa, mengatakan pembangunan rumah ibadah kerap kali menjadi problem di kalangan umat beragama di daerahnya, sehingga perlu dicarikan solusinya.
Karena itu, katanya, salah satu yang harus dilakukan adalah dialog antarumat beragama dengan pemerintah.
Menurut Muhtadin, jika pembangunan rumah ibadah tidak diselesaikan dengan bijak oleh pemerintah, tidak menutup kemungkinan mengakibatkan hubungan harmonisasi antarumat beragama terganggu.
Dalam diskusi itu juga terungkap adanya hambatan dan kesulitan bagi pemeluk agama yang berbeda dalam berkomunikasi, antara lain karena tidak adanya saling percaya.
SARA Dihapus
Sementara itu, akademisi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Datokarama Palu, Sagir M Amin, pada kesempatan itu mengatakan penggunaan istilah-istilah yang tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini, seperti suku, agama, ras, antargolongan (SARA), perlu ditinggalkan.
Istilah SARA, menurut dia, adalah produk rezim Orde Baru yang sengaja diciptakan oleh pemerintah ketika itu guna menekan terjadinya disharmonisasi dalam masyarakat, tetapi justru dengan istilah SARA tersebut telah membuat “gap” antarpemeluk agama.
“Saya sudah menyampaikan kepada anggota DPR, apakah bisa pemerintah membuat undang-undang yang melarang penggunaan istilah SARA, sehingga siapa saja yang menyebut-nyebut istilah ini dikenakan sanksi,” kata Amin menambahkan.(ANTARA)
ANSOR Gelar Dialog Pluralisme Agama
Palu – Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Tengah (Sulteng) Rabu malam ini menggelar dialog pluralisme agama yang dihadiri organisasi keagamaan pemuda di daerah setempat.
Dialog yang berlangusng di Palu itu mengusung tema menakar hubungan antarumat beragama berbasis pemuda.
Ketua Wilayah GP Ansor Sulteng, Sahran Raden, di Palu, Rabu (8/12/2010), mengatakan dialog tersebut bertujuan meningkatkan pola komunikasi antarumat beragama, serta peran dan strategi pemuka agama dalam membangun komunikasi antarumat beragama.
Dialog tersebut, katanya, ingin mengkaji apakah ada fakta atau tindakan sosial yang mencederai kerukunan umat beragama di lingkungan masyarakat umat beragama di daerahnya, sehingga perlu digali untuk mengetahui penyebab terjadinya disharmonisasi tersebut.
“Kita mau lihat apa faktanya, apa penyebabnya, apa solusinya, serta bagaimana strategi penyelesaian,” ujarnya.
Menurut Sahran, kondisi-kondisi tersebut nantinya akan dibahas dalam dialog tersebut, sehingga umat beragama bisa melakukan tindakan sosial terhadap suatu kasus yang melibatkan umat beragama.
“Kita juga ingin mengkaji apakah ada hambatan dan kesulitan bagi pemeluk agama dalam melakukan dialog dan komunikasi antarumat beragama di daerah kita,” katanya.
Sahran juga mengatakan, GP Ansor sebagai badan otonom dari organisasi Nahdlatul Ulama (NU) masih tetap konsisten mengembangkan dialog pluralisme agama.
Sebagai organisasi pemuda berbasis keagamaan, kata dia, Ansor memiliki tanggung jawab moral dalam membangun hubungan yang harmonis antarumat beragama di mana pun berada.(ANTARA)
Ansor Sulteng Dirikan Lembaga Keuangan Mikro
Palu, 9/11/2010 – GP Ansor Provinsi Sulawesi Tengah akhirnya mendirikan lembaga keuangan mikro Baitul Maal wat Tamwil (BMT). Keputusan pendirian lembaga tersebut disepakati dalam rapat pengurus PW Ansor Sulteng yang dihadiri PC Ansor Donggala, Sigi, dan Kota Palu, di Sekretariat Ansor Jalan Lasoso Palu Barat, Senin (8/11) malam.
Rapat pembentukan tersebut dipimpin langsung Ketua PW Ansor Sulteng, Sahran Raden didampingi Wakil Sekretaris Subhan Lasawedi dan jajaran wakil ketua lainnya yakni Lutfi Yunus dan Adha Nadjemuddin.
“Sebelum BMT ini disepakti, Ansor Sulteng sudah mengirim dua orang pengurus untuk magang di salah satu BMT yang sudah maju dan berkembang di Jakarta,” kata Sahran.
Dua pengurus Ansor yang diutus tersebut yakni Wahid dan Nejo. Keduanya magang di BMT tersebut selama tiga bulan. Berbekal pengetahuan dari sana, pengurus sepakat untuk mendirikan BMT.
Setalah disepakati, pada malam pembentukan BMT itu juga terkumpul dana sebesar Rp4 juta berasal dari anggota. Dana yang dihimpun tersebut merupakan setoran wajib bagi setiap anggota.
Saat ini BMT tersebut sedang dalam tahap pembenahan manajemen oleh pengurus dan diperkirakan Januari 2011 sudah akan dilauncing .***/red
Lukman Thahir dan Pusaran Kekuasaan
Oleh : Adha Nadjemuddin
Hampir dua bulan terakhir nama Dr. Lukman S Thahir MA disebut sebagai salah satu cendekiawan yang layak menjadi kandidat gubernur/wakil gubernur Sulawesi Tengah periode 2011-2016. Belum ada alasan kuat yang saya jumpai sehingga Lukman diperbincangkan, dan dianggap logis menjadi calon gubernur atau wakil gubernur.
Beberapa waktu lalu, nama Lukman Thahir mencuat di media terbitan lokal karena dianggap salah satu tokoh muda yang layak diusung menjadi kandidat gubernur/wakil gubernur. Keinginan sebagian kalangan untuk mendorong Lukman berada di pusaran kekuasaan pemerintah daerah itu mengantar namanya di kalangan sebagian besar aktivis Alkhairaat dan Nahdlatul Ulama, cukup populer sebagai kandidat pejabat daerah. Bahkan hingga saat ini namanya masih menghiasi pembicaraan di lingkungan akademis dan aktivis organisasi.
Di kalangan akademisi khususnya STAIN Palu dan Unisa, Lukman sudah sangat populer. Anak kiyai dari Kabupaten Poso ini cukup dikenal liberal dalam berpikir. Pikiran-pikirannya tentang Islam kerakyatan, keindonesiaan, kebangsaan, dan kedaerahan cukup mengakar di kalangan mahasiswa khususnya aktivis muda NU dan Alkhairaat. Dia juga termasuk tokoh pembaharu dalam gerakan pemikiran Islam khususnya di Sulawesi Tengah.
Saat ini, doktor dalam bidang pemikiran Islam itu menjabat Rektor Unisa Palu. Dari beberapa rektor sebelumnya, Lukman termasuk paling bertahan. Dia tidak diganti di tengah jalan. Kini jabatannya itu sudah memasuki periode akhir. Atas kerja keras dan lobi yang ia lakukan, Unisa berhasil membuka Fakultas Kedokteran.
Saya merasa tertantang untuk menulis beberapa pikiran terhadap Lukman dalam kancah perpolitikan lokal (baca:pilkada). Dari aspek politik, Lukman hari ini sedang tidak menjadi pejabat di partai politik. Dia juga tidak dekat dengan salah satu partai politik, apalagi menghidupi partai itu. Secara personal, mungkin dia memiliki kedekatan dengan pekerja partai. Tapi tidak ada jaminan, Lukman bisa diusung oleh partai. Fakta hari ini, siapa yang memegang partai atau dekat dengan penguasa partai, dia paling berpeluang menjadi pejabat daerah atau negara. Urusan sumber daya manusia, itu urusan nanti.
Mereka yang tidak menjadi pejabat partai tetapi diusung oleh partai bisa dihitung jari. Sebut saja, Rektor Untad Sahabuddin Mustafa (calon wakil gubernur 2006, Golkar), Akademisi Tahmidi Lasahido (calon bupati Tojo Unauna 2005 dan 2010, PAN), akademisi Baharudin H Hasan (calon bupati Tolitoli, PPP). Fakta politik menunjukkan akademisi belum diperhitungkan menjadi pejabat daerah. Sahabuddin Mustafa, gagal. Tahmidi Lasahido pun begitu. Dua kali bertarung di Pilkada, juga kalah. Baharudin, justru belum bertarung, gugur. Jika dikaji lebih jauh, banyak penyebab kekalahan itu. Kesimpulannya, kepopuleran pengetahuan akademik kalah populer dengan kemampuan politik, sehingga ikut berpengaruh pada elektabilitasnya.
Bagaimana dengan Lukman? Persepsi tentang Lukman, baiknya kita lihat dari ‘resource’ politik yang dia miliki. Bukan berarti Sahabuddin Mustafa, Tahmidi dan Baharuddin tidak memiliki ‘resource’ politik. Meski sama-sama dari akademisi tetapi ada perbedaan ‘resorce’ politik diantara mereka.
Lukman memiliki ikatan sosiologis, kultural, dan ideologis dengan Alkhairaat dan Nahdlatul Ulama. Ini sangat kuat dari sekadar kedekatan struktural. Okelah, saya sepakat untuk tidak menggiring lembaga Alkhairaat dalam dunia politik praktis, tetapi bukan tidak mungkin kedekatan itu akan menggiring ruang gerak yang luas dan bebas bagi Alkhairaat, seperti banyak dilakukan politisi lokal untuk ‘nyantol’ di tengah kharismatik kiyai Alkhairaat selama ini.
Itulah yang saya sebut dengan ‘resource’ politik yang dimiliki Lukman. Bedanya dengan yang lain, Lukman tidak perlu “mempublikasi” diri bahwa dirinya dekat dengan kiyai Alkhairaat atau datang berlutut di hadapan para tokoh Alkhairaat/NU. Tetapi justru sebaliknya, panggilan moral dari para kiyai itu akan datang untuk mendukung Lukman. Ini kekuatan besar yang bisa mengalahkan kekuatan organisasi partai politik. Sebagai orang berkeyakinan, saya sangat percaya dengan kerja dan doa para kiyai.
Sisi lain yang agak sulit bagi saya adalah, Lukman tidak mungkin mengejar apalagi ‘menyembah’ kepada pimpinan partai politik agar mengusung dirinya menjadi kandidat. Itu bukan karakter seorang Lukman. Karakter inilah yang mengkhawatirkan saya sehingga hubungan Lukman dengan partai politik agak sulit dipertemukan. Kecuali jika partai itu berkeinginan menggandeng Lukman.
Dari aspek strategis pembangunan sosial, saya tidak pernah ragu dengan pikirannya. Justru saya khawatir, pikiran-pikirannya dalam membangun dan menyelesaikan problem-problem sosial kemasyarakatan tidak semuanya mampu diterjemahkan oleh aparatur dalam bentuk praktis.
Lukman dalam pergolakan pemikiran banyak dipengaruh oleh pikiran filsafat, baik Islam maupun barat dan Yunani. Ini pula yang banyak dia terjemahkan dalam kehidupan nyata kekinian dalam berbagai aspek, politik, sosial, budaya, demokrasi dan ekonomi. Dia tipe cendekiawan muslim yang lentur. Tidak dogmatis yang melihat persoalan realitas hanya hitam-putihnya saja.
Sebagai mantan aktivis mahasiswa dan mahasiswa pasca sarjana yang lama menetap di Jakarta dan Yogyakarta, Lukman memiliki “netword” yang bisa diandalkan. Ia pernah menjadi wakil ketua Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Beberapa kawannya saat ini memegang peran penting di Kementrian maupun badan usaha milik negera.
Dari tulisan pendek ini, menguatkan logika saya, Lukman Thahir pantas menjadi kandidat gubernur/wakil gubernur. Tapi apalah artinya kekuatan Lukman jika tidak ada keinginan kuat dari partai politik untuk mereformasi daerah ini menjadi daerah yang maju dan disegani. Andai saja ada partai politik berkemauan tinggi mencari calon pemimpin daerah di luar lingkaran partai politik, saya yakin sangat banyak stok pemimpin di daerah ini. Tapi rasanya sulit, karena hasrat merebut kekuasaan itu sulit dibendung padahal sudah dilalui dan dirasakannya meski hasilnya biasa-biasa saja.***
Pembukaan PKL – Suasana pembukaan PKL GP Ansor NU se Sulawesi-Kalimantan di Kota Palu, 16 Juli 2010. Hadir pada acar pembukaan tersebut Wakil Gubenur Sulteng, Achmad Yahya, Sekjen PP Ansor Abdul Malik Haramain, Wakil Sekjen Maskut Candranegara, serta sejumlah tokoh NU Sulteng dan undangan lainnya.(foto: panpel)
Galeri Foto
Pembukaan PKL – Pembukaan PKL Ansor se Sulawesi-Kalimantan di Palu, 16 Juli 2010 dihadiri sejumlah kiyai, pejabat dan pengurus Ansor. Dari kiri ke kanan, Dr.Lukman S Thahir (Wakil Ketua Dewan Syurah PW NU Sulteng), Abdul Malik Haramain (Sekjen PP Ansor), Achmad Yahya (Wagub Sulteng), Kiflin Pajala (Wakil Ketua Tanfidz PW NU Sulteng), Sahran Raden (Ketua PW Ansor Sulteng). (foto : panpel)
Galeri Foto
Penyambutan dan Penyerahan Cendramata – Wagub Sulteng, Achmad Yahya disambut Sekjen PP Ansor Abdul Malik Haramain, dan Ketua PW Ansor Sulteng, Sahran Raden. Wagub juga menyerahkan cendramata kepada Sekjen PP Ansor Abdul Malik Haramain pada pembukaan PKL Ansor se Sulawesi-Kalimantan.(foto:panpel)





Komentar